Senin, 17 Agustus 2015

Dua Sisi

Bagaimana pandangan banyak orang ya mengenai seseorang yang masih nganggur? Sepertinya enggak enak deh, apalagi kalau orang yang sedang memegang status sebagai pengangguran itu adalah diri kita sendiri. Bisa saja, ketika kita hendak pergi keluar rumah bakalan ga jadi hanya karena ga kuat nanggung malu diliatin masih pengangguran sama tetangga-tetangga sebelah...hehehe
Lantas seburuk itukah? Semenyakitkan itukah? Menurut saya, tentu saja tidak...!!! Oke, sebagai perbandingannya saya akan memberikan dua pendapat yang berdasarkan dari dua sisi penilaian yang tentu saja berbeda.

Saya, yang sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir yang masih pengangguran selalu merasa iri kepada orang yang sudah bekerja, "Wah, dia mah udah kerja ya, pagi-pagi gini teh udah siap-siap buat berangkat ngantor. Lah, sayamah malah main main gini, pagi-pagi malah lari-lari, bersih-bersih rumah, masak ikan buat sarapan" . Nah itu adalah kata-kata yang selalu saya katakan dalam hati di pagi hari ketika saya berada diluar rumah melihat rutinitas tetangga yang mulai pergi bekerja. Okeh, selanjutnya mari kita pergi ke sisi pandangan yang lain, yakni ketika  saya memperoleh pekerjaan.
Ketika kelak saya sudah memperoleh pekerjaan, tentu -pasti- saja saya akan memiliki pandangan yang baru, saya juga akan IRI kepada orang yang masih menganggur, "Wah, dia mah pagi-pagi teh masih santai, masih sempat olahraga pagi, masih sempat beres-beres rumah, masih sempat masak buat sarapan paginya juga. Lah, saya yang udah kerja begini malah enggak sempat melakukan rutinitas yang seperti itu karena dikejar jam buat ngantor, sarapan juga malah sarapan roti di pinggir jalan". Well itu mungkin yang bakalan saya ucapkan dalam hati kalau udah dapat kerja, tapi saya yakin kok bahwa itulah yang akan saya ucapkan. hehehe
Well, segala hal yang terjadi kelak haruslah ditilik dari dua sisi yang berlawanan, tujuannya?? tentu saja agar kita tidak terlalu menyesali, dan tidak terlalu membanggakan diri. Kedua hal yang seperti itu kan yang selalu membawa manusia ke sisi yang paling buruk? Contohnya, terlalu menyesali bisa berdampak ke upaya untuk bunuh diri, dan terlalu membanggakan diri bisa berdampak ke sifat tamak dan dibenci oleh orang lain.. hehe
Tapi hanya karena pendapat yang seperti ini, jangan jadi orang yang terlalu banyak nyantai-nyantai ya, tetap berusaha dan bersabar untuk memperoleh pekerjaan, Insyaallah Allah SWT bersama dengan orang-orang yang bersabar. Dan perlu diingat pula untuk tidak jadi orang yang terlalu sibuk dengan urusan dunia. Kakak sepupu saya pernah mengatakan hal yang menarik yang masih berbekas di hati dan pikiran saya,
"Untuk urusan duniawi, cukuplah digenggam oleh tangan kanan saja, tidak usah hati mencampuri. Lain halnya dengan urusan akhirat, kerahkan upaya di seluruh tubuh dan hati untuk memperoleh Surga-Nya."

Sabtu, 15 Agustus 2015

Happy Birthday To Me!!

Selamat Ulang Tahun Ansar!!
"Kayanya ucapannya telat ya??"
"Emang telat beneran!!"haha
Well, anggap saja hari ulang tahun itu sudah berlalu...hehe
Beberapa hari terakhir saya kembali mengutak atik blog tercinta, tujuannya tidak lain karena ingin mengganti beberapa tampilan blog yang menurut saya sudah usang. Berhubung saya orangnya memang cepat merasa bosan, alhasil saya mencoba untuk mengganti tampilan header, footer, body, elemen-elemen warna, dan juga pengaturan font.

Waktu yang kali ini saya gunakan adalah selama empat hari. Kok lama ya? Emang lama. Habisnya saya amatir sih di bidang web design, baca kode html aja sambil mangap mangap...hehehe
Kalau saja, iya kalau, anda sering membuka blog ini (ngimpi), mungkin akan terlihat beberapa tampilan yang berbeda. Bagi saya, tampilan baru ini terbilang menarik dan saya menyukainya. Menurut anda??

Selasa, 07 Juli 2015

Alarm yang Membangunkan dan Adapula yang Tidak

Setiap pukul 3 subuh speaker mesjid bergema di selubung udara yang masih sangat dingin untuk membangunkan warga-warga sekitarnya yang masih tertidur untuk segera makan sahur. Begini kira-kira bunyi dari pengeras suara TOA itu, "Sekarang waktu tengah menunjukkan pukul tiga lewat lima pagi, SAHUUUUUUR, SAHUUUUR". Begitulah kira-kira sembari ucapan tersebut di-repeat hingga lima kali.

Secara umum, mungkin metode ini sangat membantu bagi yang sulit untuk bangun pagi. Tetapi disisi lain metode ini sebenarnya bisa dibilang agak mengganggu. Seperti yang sudah sering diceritakan oleh orang-orang terdahulu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperlambat jam makan sahur. Jadi, kalau misalnya adzan shubuh itu sekitar pukul 04.47, maka waktu makan sahur yang paling baik adalah pada pukul 04.00, bukan pada pukul 03.05.
So, kalau bisa sih nanti-nanti kalau mau bangunkan orang sahur, bisa agak sedikit diubah ucapannya kali ya, jadi begini
"Sekarang waktu telah menunjukkan pukul tiga lewat lima pagi, BANGUUUUUUN, BANGUUUUUNNN, Ibu-ibu yang belum masak silakan masak untuk persiapan makan sahur, sisanya yang enggak bertugas masak bisa shalat malam dulu, atau tadarus dulu. Nanti kalau udah jam empat pagi silakan makan Sahuuuurr..."
Makasih, gitu....:D

Kategori:

Kamis, 02 Juli 2015

Strong Kid

Pagi hari ini saya dibuat terkagum-kagum oleh kakak saya yang menasihati adik sepupu yang cuma diam dirumah saja (bengong) tanpa melakukan pekerjaan apapun ketika semua anggota keluarga sedang sibuk-sibuknya membersihkan rumah. Kurang lebih kalimatnya seperti ini
"Kenapa kerjaannya cuma diam aja? ini rumah dititipkan sama kita untuk dihuni. Memang kita bisa melakukan semuanya sesuka hati disini, tapi juga kan kita punya tanggungjawab untuk merawat rumah ini. Setidaknya bantu-bantu saya sedikit kek untuk membersihkan, dan jangan diam saja. Karena kalau misalnya disini sudah tidak bisa kerja apa-apa, bakalan sulit itu menjalani aktivitasmu kelak di pesantren."
Jadi ceritanya adik sepupu saya ini akan bersekolah di pesantren mulai tanggal 24 Juli.
"Mungkin adek ngerasa kalau adek banyak dijahatin disini, seperti 'kenapa saya dimarah-marahi?', atau 'kenapa saya selalu dinasehati?' dan sebagainya. Tapi adek harus ingat kalau kita ini anak laki-laki, tidak seperti anak perempuan yang dibesarkan dengan kelembutan, kita anak laki-laki mau tidak mau harus dididik dengan banyak tekanan dan paksaan"
Kalimat terakhir itulah yang membuat saya tersentak dan mulai berpikir, "dididik dengan banyak tekanan dan paksaan"

Pada dasarnya, memang anak laki-laki tidak dididik dengan kelembutan. Saya masih teringat ketika masih kecil, saya memiliki cara belajar yang bisa dibilang agak ekstrim. Di jaman SD dulu, saya punya kebiasaan 'salah menulis', dimana beberapa huruf biasa saya tulis terbalik, seperti keterbalikan huruf a, angka 4, 5, kemudian keterbalikan antara huruf b dengan d, p dengan q , angka 3 dengan huruf hijaiyah ai'n dan masih banyak lagi. Untuk menanggung masalah tersebut, saya diwajibkan untuk belajar menulis di rumah selama 2 jam, dimana jam belajarnya digabung dengan pembelajaran menulis tegak bersambung, dan dilarang bermain jika pelajaran menulis itu belum selesai. Boro-boro mau main, selepas belajar badan saya terasa lemas, ujungnya malah tidur.
Hal yang lainnya adalah mengenai nilai tugas dan ulangan. Ayah saya membuat perjanjian sepihak kepada saya dimana jika ada satu saja nilai yang saya dapat di sekolah dengan nilai dibawah 7 (skala 10), maka saya dilarang untuk bermain selama seharian (bahkan dilarang untuk menonton televisi). Jadi, hal yang menjadi mimpi buruk bagi saya jika mendapat nilai yang buruk,,hehehe
Nah, meskipun aturan aturan itu terasa berat dan menyiksa ujung-ujungnya saya bisa menjalaninya, dan alhamdulillah banyaknya hari yang harus saya habiskan karena nilai saya yang buruk ternyata bisa dihitung dengan jari.
Kesimpulannya, ketika seorang anak laki-laki diberi banyak tekanan dari orang disekitarnya, anak tersebut pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatasi masalahnya. Pemberian tekanan sebenarnya akan memberikan pelajaran kepada sang anak tentang kedewasaan, kemandirian, kedisiplinan dan berpikir secara lebih verbal dan terbuka. Tekanan akan membuat seorang anak untuk terus maju dan melangkah, karena sebenarnya seorang anak laki-laki itu suka dengan yang namanya 'tantangan'..

"Jadilah seorang anak lelaki layaknya sebatang besi, yang semakin dibakar, yang semakin ditempa akan menjadi besi yang lebih baik"

Kategori:

Up ↑

Desain oleh Anders Noren | Diberdayakan oleh Blogger | M.A